Perkembangan sektor pariwisata pada era global menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis pelayanan, tetapi juga kemampuan komunikasi dalam konteks internasional. Bahasa Inggris menjadi kompetensi penting karena digunakan dalam interaksi dengan wisatawan mancanegara dan berpengaruh terhadap kualitas layanan, citra destinasi, serta daya saing tenaga kerja.
Bagi SMK bidang pariwisata, penguatan kemampuan bahasa Inggris merupakan bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Siswa perlu mampu menjelaskan layanan, memberi informasi, menyambut tamu, dan membangun komunikasi yang sopan serta meyakinkan dalam situasi pelayanan.
Pembelajaran bahasa Inggris dalam pendidikan vokasi idealnya tidak hanya menekankan teori gramatikal, tetapi juga diarahkan pada keterampilan komunikatif yang dapat digunakan secara nyata. Dalam praktiknya, pembelajaran di sekolah sering masih berpusat pada hafalan, latihan tertulis, dan penguasaan bentuk bahasa sehingga siswa belum terbiasa berbicara secara aktif.
Public speaking menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan pariwisata karena mencakup kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas, memperkenalkan diri, menjelaskan objek wisata, menawarkan layanan, dan merespons pertanyaan dengan percaya diri. Kemampuan ini dibutuhkan karena siswa pariwisata berpotensi berhadapan langsung dengan tamu, wisatawan, dan mitra industri.
Kendala siswa dalam public speaking tidak hanya berkaitan dengan kosakata atau pelafalan, tetapi juga rasa gugup, kurang percaya diri, dan ketidakbiasaan tampil di depan orang lain. Bahkan ketika siswa memahami materi yang ingin disampaikan, mereka tetap dapat mengalami kesulitan apabila tidak terbiasa berbicara secara terstruktur dan komunikatif.
Kondisi aktual di banyak sekolah kejuruan menunjukkan bahwa siswa memiliki minat terhadap bahasa Inggris, tetapi belum selalu mendapatkan kesempatan praktik yang memadai. Mereka lebih sering menerima materi, mengerjakan tugas, dan menjawab pertanyaan singkat dibandingkan berlatih tampil secara utuh dalam situasi komunikatif.
Pada mitra kegiatan, yaitu siswa SMK pariwisata di Kabupaten Sukabumi, kemampuan berbicara bahasa Inggris masih belum berkembang optimal dalam konteks pelayanan dan presentasi. Sebagian siswa memahami instruksi atau ungkapan dasar, tetapi belum terbiasa memperkenalkan layanan wisata, menjelaskan objek, atau melakukan percakapan sederhana secara lancar dan percaya diri.
Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memperkuat kemampuan public speaking berbahasa Inggris siswa melalui pelatihan dan pendampingan berbasis praktik. Program ini bertujuan meningkatkan rasa percaya diri, memperluas penguasaan ungkapan bahasa Inggris dalam konteks pariwisata, serta membiasakan siswa berbicara secara lebih terstruktur dan komunikatif.