Publion

Pelatihan Public Speaking Bahasa Inggris bagi Siswa SMK Pariwisata di Kabupaten Sukabumi

Rina Maulidya Sari1

1Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Sukabumi, Indonesia

Published: Jun 04, 2026

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai respons terhadap masih terbatasnya kemampuan public speaking berbahasa Inggris pada siswa SMK bidang pariwisata di Kabupaten Sukabumi. Meskipun para siswa telah memperoleh pembelajaran bahasa Inggris di kelas, sebagian besar masih mengalami kesulitan dalam berbicara secara percaya diri, memperkenalkan layanan wisata, serta merespons percakapan sederhana yang berkaitan dengan konteks pelayanan dan pariwisata. Program ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi berbicara siswa melalui model pelatihan berbasis praktik yang menekankan pada simulasi, role play, dan pendampingan bertahap. Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan interaktif, praktik berbicara, pendampingan, serta evaluasi reflektif dengan melibatkan siswa dan guru sebagai peserta aktif. Hasil implementasi awal menunjukkan adanya peningkatan rasa percaya diri siswa, kesadaran terhadap pelafalan, penguasaan kosakata, serta kemampuan menyampaikan presentasi singkat dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan layanan pariwisata. Program ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking berbahasa Inggris yang praktis dan partisipatif dapat menjadi strategi yang relevan untuk meningkatkan kesiapan siswa menghadapi lingkungan kerja pariwisata dan pelayanan di masa depan.

Keywords

Pelatihan Bahasa InggrisPublic SpeakingSiswa SMKPariwisata

Introduction

Perkembangan sektor pariwisata pada era global menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis pelayanan, tetapi juga kemampuan komunikasi dalam konteks internasional. Bahasa Inggris menjadi kompetensi penting karena digunakan dalam interaksi dengan wisatawan mancanegara dan berpengaruh terhadap kualitas layanan, citra destinasi, serta daya saing tenaga kerja.

Bagi SMK bidang pariwisata, penguatan kemampuan bahasa Inggris merupakan bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Siswa perlu mampu menjelaskan layanan, memberi informasi, menyambut tamu, dan membangun komunikasi yang sopan serta meyakinkan dalam situasi pelayanan.

Pembelajaran bahasa Inggris dalam pendidikan vokasi idealnya tidak hanya menekankan teori gramatikal, tetapi juga diarahkan pada keterampilan komunikatif yang dapat digunakan secara nyata. Dalam praktiknya, pembelajaran di sekolah sering masih berpusat pada hafalan, latihan tertulis, dan penguasaan bentuk bahasa sehingga siswa belum terbiasa berbicara secara aktif.

Public speaking menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan pariwisata karena mencakup kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas, memperkenalkan diri, menjelaskan objek wisata, menawarkan layanan, dan merespons pertanyaan dengan percaya diri. Kemampuan ini dibutuhkan karena siswa pariwisata berpotensi berhadapan langsung dengan tamu, wisatawan, dan mitra industri.

Kendala siswa dalam public speaking tidak hanya berkaitan dengan kosakata atau pelafalan, tetapi juga rasa gugup, kurang percaya diri, dan ketidakbiasaan tampil di depan orang lain. Bahkan ketika siswa memahami materi yang ingin disampaikan, mereka tetap dapat mengalami kesulitan apabila tidak terbiasa berbicara secara terstruktur dan komunikatif.

Kondisi aktual di banyak sekolah kejuruan menunjukkan bahwa siswa memiliki minat terhadap bahasa Inggris, tetapi belum selalu mendapatkan kesempatan praktik yang memadai. Mereka lebih sering menerima materi, mengerjakan tugas, dan menjawab pertanyaan singkat dibandingkan berlatih tampil secara utuh dalam situasi komunikatif.

Pada mitra kegiatan, yaitu siswa SMK pariwisata di Kabupaten Sukabumi, kemampuan berbicara bahasa Inggris masih belum berkembang optimal dalam konteks pelayanan dan presentasi. Sebagian siswa memahami instruksi atau ungkapan dasar, tetapi belum terbiasa memperkenalkan layanan wisata, menjelaskan objek, atau melakukan percakapan sederhana secara lancar dan percaya diri.

Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk memperkuat kemampuan public speaking berbahasa Inggris siswa melalui pelatihan dan pendampingan berbasis praktik. Program ini bertujuan meningkatkan rasa percaya diri, memperluas penguasaan ungkapan bahasa Inggris dalam konteks pariwisata, serta membiasakan siswa berbicara secara lebih terstruktur dan komunikatif.

Research Method

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di salah satu SMK bidang pariwisata di Kabupaten Sukabumi dengan sasaran utama siswa yang dipersiapkan menghadapi kebutuhan komunikasi dalam lingkungan pelayanan dan industri pariwisata. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan interaktif, workshop praktik, simulasi public speaking, dan pendampingan bertahap. Tahap persiapan dilakukan melalui koordinasi dengan pihak sekolah untuk menyepakati bentuk kegiatan, waktu pelaksanaan, dan karakteristik peserta. Selanjutnya dilakukan identifikasi kebutuhan melalui komunikasi awal dengan guru dan pengamatan terhadap kemampuan dasar siswa dalam berbicara bahasa Inggris, terutama pada aspek keberanian tampil, pelafalan, kelancaran, dan penggunaan ungkapan yang relevan dengan konteks pariwisata.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pentingnya public speaking berbahasa Inggris dalam pendidikan vokasi dan industri pariwisata, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan materi dasar, latihan pengucapan, penguatan kosakata layanan, serta workshop praktik berbicara dalam bentuk perkenalan diri, penyampaian informasi, dan simulasi pelayanan wisata. Setelah pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan, monitoring, dan evaluasi reflektif. Pendampingan dilakukan melalui latihan berulang, pemberian umpan balik langsung, serta pembiasaan siswa tampil secara individu maupun kelompok dalam suasana belajar yang suportif. Evaluasi dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan perubahan sikap, keterlibatan aktif peserta, dan perkembangan kemampuan presentasi singkat terkait layanan pariwisata.

Results and Discussion

Pelaksanaan program menunjukkan bahwa persoalan utama mitra terletak pada belum kuatnya kemampuan public speaking berbahasa Inggris dalam konteks pendidikan vokasi pariwisata. Siswa telah memiliki pengetahuan dasar bahasa Inggris dari pembelajaran di kelas, tetapi kemampuan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi keberanian dan keterampilan berbicara yang fungsional.

Pada tahap awal, siswa cenderung ragu ketika diminta tampil, menjawab secara singkat, atau bergantung pada teks tertulis ketika berbicara. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah mitra lebih bersifat performatif daripada teoritis, sehingga program diarahkan untuk membangun ruang latihan yang mendorong siswa berani tampil secara lisan.

Sosialisasi dan penguatan motivasi menjadi fondasi penting dalam kegiatan. Banyak siswa awalnya memandang bahasa Inggris sebagai pelajaran yang sulit dan menegangkan, terutama ketika harus berbicara di depan teman-teman. Karena itu, siswa diberi pemahaman bahwa kemampuan berbicara dapat berkembang melalui latihan yang terarah dan berulang.

Materi pelatihan disampaikan dengan contoh yang dekat dengan dunia pariwisata, seperti menyapa tamu, memperkenalkan objek wisata, dan menjelaskan layanan sederhana. Pendekatan kontekstual ini membantu siswa melihat bahasa Inggris sebagai keterampilan praktis, bukan sekadar pelajaran abstrak.

Pelatihan inti dilakukan melalui latihan bertahap yang menggabungkan penjelasan singkat, contoh praktik, dan kesempatan tampil langsung. Siswa diperkenalkan pada bentuk public speaking sederhana, seperti memperkenalkan diri, menjelaskan produk atau layanan, memberi informasi arah, dan menyampaikan sambutan singkat dalam bahasa Inggris.

Latihan dibuat dalam tugas-tugas kecil yang realistis agar siswa tidak merasa terbebani. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa siswa lebih mudah terlibat ketika tugas berbicara dikaitkan dengan peran atau situasi tertentu, bukan hanya diminta berbicara secara bebas.

Metode praktik yang menyerupai toastmaster dan role play menjadi komponen penting dalam program. Siswa ditempatkan dalam situasi simulatif, seperti menjadi petugas informasi wisata, pemandu sederhana, atau staf pelayanan yang harus berinteraksi dengan tamu.

Pendekatan role play memberi manfaat ganda. Siswa memperoleh pengalaman berbicara yang lebih hidup dan tidak monoton, sekaligus memahami bahwa bahasa Inggris harus digunakan sebagai alat komunikasi dalam situasi nyata. Respons siswa terhadap metode ini cukup baik karena mereka lebih mudah belajar ketika berbicara ditempatkan dalam alur peran yang jelas.

Gambar pada halaman 7 menampilkan simulasi public speaking siswa SMK. Visual tersebut memperlihatkan seorang siswa sedang melakukan presentasi dalam konteks layanan wisata dengan pendampingan fasilitator dan perhatian peserta lain. Gambar ini mendukung uraian bahwa kegiatan dilaksanakan melalui praktik langsung, simulasi, dan suasana belajar yang komunikatif.

Tabel pada halaman 8 menunjukkan hasil awal pelaksanaan program. Siswa yang awalnya ragu tampil mulai berani berbicara secara individu dan kelompok. Penguasaan ungkapan praktis juga mulai meningkat, terutama pada kosakata pelayanan, perkenalan, dan penjelasan informasi. Selain itu, kelancaran berbicara, kesadaran pelafalan, dan partisipasi kelas menunjukkan perkembangan positif.

Setelah beberapa sesi pelatihan, terjadi perubahan perilaku belajar pada sebagian siswa. Mereka yang sebelumnya menghindari kesempatan tampil mulai menunjukkan kesiapan untuk mencoba. Beberapa siswa yang awalnya hanya menjawab dengan satu atau dua kata mulai berani menyampaikan kalimat yang lebih panjang meskipun masih sederhana.

Secara keseluruhan, program memberi manfaat pada peningkatan rasa percaya diri, penguasaan ungkapan sederhana, kemampuan menyusun presentasi singkat, dan budaya belajar yang lebih komunikatif. Namun, capaian ini masih bersifat awal karena tidak semua siswa berkembang dengan kecepatan yang sama. Sebagian masih memerlukan pendampingan lanjutan, terutama dalam pelafalan, kelancaran, dan keberanian berbicara secara spontan.

Conclusion

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai respons terhadap masih terbatasnya kemampuan public speaking berbahasa Inggris pada siswa SMK bidang pariwisata di Kabupaten Sukabumi. Meskipun siswa telah memperoleh pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, kemampuan tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi keterampilan berbicara yang fungsional, percaya diri, dan sesuai dengan kebutuhan komunikasi layanan. Permasalahan ini tampak pada rendahnya keberanian tampil, keterbatasan penggunaan ungkapan praktis, serta masih lemahnya kelancaran dan pelafalan ketika siswa diminta berbicara secara langsung.

Untuk menjawab persoalan tersebut, program dilaksanakan melalui sosialisasi, pelatihan interaktif, workshop praktik, simulasi public speaking, serta pendampingan bertahap. Rangkaian kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang aplikatif dan kontekstual. Dengan demikian, program pengabdian ini hadir sebagai bentuk intervensi yang menjembatani kebutuhan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dengan tuntutan komunikasi dalam dunia pariwisata.

Hasil implementasi menunjukkan bahwa program memberikan manfaat yang cukup nyata bagi mitra. Siswa mulai menunjukkan peningkatan rasa percaya diri untuk berbicara di depan kelas, bertambahnya penguasaan ungkapan sederhana yang berkaitan dengan pelayanan dan pariwisata, serta membaiknya kemampuan menyusun presentasi singkat dalam bahasa Inggris. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong perubahan perilaku belajar, dari yang semula pasif menjadi lebih aktif dan berani mencoba.

Kontribusi program tidak hanya terlihat pada peningkatan keterampilan individual, tetapi juga pada terciptanya suasana pembelajaran yang lebih komunikatif dan partisipatif di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking berbahasa Inggris berbasis praktik dapat menjadi strategi yang relevan untuk memperkuat kesiapan siswa SMK pariwisata dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja dan pelayanan di masa depan.

Sebagai tindak lanjut, program semacam ini perlu dikembangkan secara lebih berkelanjutan melalui latihan rutin, penguatan kolaborasi dengan guru pendamping, serta integrasi simulasi komunikasi ke dalam pembelajaran harian di sekolah. Sekolah juga dapat membentuk forum latihan kecil atau klub speaking agar siswa memiliki ruang yang konsisten untuk mempertahankan dan mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh. Di samping itu, pelatihan lanjutan dapat diarahkan pada situasi komunikasi yang lebih spesifik, seperti presentasi destinasi wisata, pelayanan reservasi, atau percakapan dengan tamu asing. Dengan dukungan yang berkelanjutan, program ini berpotensi menjadi model penguatan kompetensi komunikasi bahasa Inggris yang lebih terstruktur bagi siswa SMK bidang pariwisata. Oleh karena itu, pengembangan program serupa sangat direkomendasikan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan lapangan kerja.

References

Arifin, M., & Hidayat, R. (2021). Pelatihan public speaking sebagai strategi penguatan kompetensi siswa sekolah menengah kejuruan. Jurnal Pengabdian Pendidikan Indonesia, 5(2), 88–97.

Fauziah, N., Pratama, D., & Lestari, A. (2020). Pendampingan pembelajaran bahasa Inggris komunikatif bagi siswa vokasi bidang layanan. Jurnal Abdimas Bahasa dan Pendidikan, 4(1), 41–50.

Handayani, T., & Mulyana, Y. (2022). Penguatan keterampilan berbicara bahasa Inggris melalui simulasi layanan pariwisata di sekolah kejuruan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Terapan, 7(1), 66–77.

Hidayah, S., & Kurniadi, B. (2021). Implementasi role play dalam meningkatkan keberanian berbicara bahasa Inggris siswa SMK. Jurnal Inovasi Pendidikan Vokasi, 6(3), 173–184.

Iskandar, A., & Rahmawati, D. (2020). Edukasi partisipatif dalam program pengabdian masyarakat untuk penguatan kompetensi komunikasi siswa. Jurnal Pemberdayaan Pendidikan dan Masyarakat, 3(2), 101–110.

Maulana, F., & Sari, N. P. (2023). Workshop speaking English for tourism sebagai upaya peningkatan kesiapan kerja siswa SMK. Jurnal Aksi Pengabdian, 8(1), 25–36.

Nugroho, H., Setyawan, R., & Amalia, L. (2021). Pelatihan berbasis praktik dalam pembelajaran bahasa Inggris vokasional. Jurnal Pengembangan Kompetensi Vokasi, 5(4), 211–223.

Prameswari, E., & Hakim, L. (2022). Monitoring dan evaluasi program pelatihan keterampilan berbicara pada siswa sekolah kejuruan. Jurnal Abdimas Nusantara, 6(2), 119–129.

Rahman, A., & Wulandari, I. (2021). Public speaking dan kesiapan profesional siswa pariwisata di era layanan global. Jurnal Pendidikan Pariwisata dan Komunikasi, 4(2), 92–104.

Download