Publion

Pemberdayaan Pembudidaya Udang Vaname melalui Pelatihan Kualitas Air dan Pencegahan Penyakit di Pangandaran

Fikri Maulana1

1Universitas Galuh, Ciamis, Indonesia

Published: Jun 04, 2026

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelompok pembudidaya udang vaname di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, dalam pengelolaan kualitas air dan pencegahan penyakit budidaya. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi masih terbatasnya pemahaman teknis mengenai parameter kualitas air, belum rutinnya kegiatan monitoring kolam, serta tingginya risiko gangguan kesehatan udang yang berdampak pada produktivitas budidaya. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dengan tahapan identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan praktik lapangan, serta monitoring dan evaluasi sederhana. Materi pengabdian difokuskan pada pengenalan indikator kualitas air, manajemen pakan, kebersihan kolam, dan langkah pencegahan penyakit yang dapat diterapkan pada budidaya skala kecil. Hasil sementara menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya pemantauan kualitas air, perubahan perilaku dalam pengelolaan kolam yang lebih teratur, serta meningkatnya kesadaran untuk menerapkan langkah pencegahan sejak awal siklus budidaya. Program ini memberikan kontribusi awal terhadap penguatan kapasitas teknis pembudidaya dan mendukung upaya pengembangan budidaya udang yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan di wilayah pesisir.

Keywords

pengabdian masyarakatbudidaya udang vanamekualitas airpencegahan penyakit

Introduction

Budidaya udang merupakan sektor perikanan yang memiliki nilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan rumah tangga pembudidaya, tetapi juga mendukung perputaran ekonomi lokal melalui tenaga kerja, distribusi hasil panen, dan usaha penunjang lainnya.

Udang vaname menjadi komoditas yang banyak dikembangkan karena memiliki permintaan pasar yang tinggi dan prospek ekonomi yang menjanjikan. Namun, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh penebaran benur dan pemberian pakan, tetapi juga oleh kemampuan pembudidaya dalam mengelola lingkungan budidaya secara berkelanjutan.

Kualitas air merupakan faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup udang selama siklus pemeliharaan. Parameter seperti suhu, salinitas, derajat keasaman, oksigen terlarut, dan kejernihan air berkaitan langsung dengan nafsu makan, pertumbuhan, serta daya tahan udang terhadap stres dan penyakit.

Pada budidaya skala kecil, masalah kualitas air sering muncul bukan semata karena ketiadaan alat, tetapi karena belum adanya kebiasaan monitoring yang rutin. Perubahan kondisi air sering baru disadari ketika udang mengalami penurunan aktivitas makan, pertumbuhan tidak merata, atau kematian dalam jumlah tertentu.

Selain kualitas air, pencegahan penyakit juga menjadi tantangan utama dalam budidaya udang. Penyakit dapat dipicu oleh kondisi lingkungan yang buruk, padat tebar yang tidak sesuai, manajemen pakan yang kurang tepat, serta rendahnya kebersihan kolam. Karena itu, pencegahan sejak awal lebih penting daripada penanganan setelah gangguan muncul.

Wilayah pesisir Pangandaran memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya udang karena didukung oleh sumber daya pesisir, tradisi usaha perikanan, dan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi kelautan. Di Desa Babakan, kelompok pembudidaya udang vaname telah menjalankan usaha budidaya secara aktif, tetapi masih menghadapi kendala teknis yang memengaruhi stabilitas produksi.

Permasalahan utama mitra adalah rendahnya pemahaman mengenai pengelolaan kualitas air secara teratur dan belum optimalnya praktik pencegahan penyakit. Sebagian pembudidaya masih memandang kualitas air sebagai aspek yang diperhatikan hanya ketika gangguan sudah terlihat, sehingga pengelolaan kolam cenderung reaktif.

Kegiatan pengabdian ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya udang vaname di Desa Babakan melalui pelatihan kualitas air, edukasi pencegahan penyakit, dan pendampingan praktik lapangan. Program ini bertujuan membangun kebiasaan monitoring, meningkatkan kesadaran terhadap tindakan preventif, dan mendukung budidaya udang yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Research Method

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, dengan sasaran kelompok pembudidaya udang vaname skala kecil yang menjalankan usaha pada kolam tradisional dan semi-intensif. Metode yang digunakan adalah pendekatan pengabdian partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan teknis, edukasi lapangan, dan pendampingan praktik. Tahap persiapan dilakukan melalui koordinasi tim pelaksana, komunikasi dengan ketua kelompok pembudidaya dan aparat desa, serta penyusunan materi yang berfokus pada kualitas air, kebersihan kolam, manajemen pakan, dan pencegahan penyakit budidaya.

Identifikasi kebutuhan dilakukan melalui observasi lapangan dan dialog langsung dengan mitra untuk memahami pola budidaya, kendala pemeliharaan, serta kebiasaan pembudidaya dalam memantau kondisi kolam. Setelah pelatihan inti, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan, monitoring, dan evaluasi sederhana. Pendampingan difokuskan pada pengamatan perubahan kondisi air, pengenalan gejala awal gangguan udang, pengelolaan kebersihan kolam, serta perbaikan kebiasaan pemeliharaan yang sebelumnya bersifat reaktif. Evaluasi dilakukan melalui diskusi reflektif, peninjauan hasil pengamatan lapangan, dan identifikasi perubahan pemahaman maupun praktik sederhana yang mulai muncul.

Results and Discussion

Pelaksanaan program menunjukkan bahwa permasalahan utama kelompok pembudidaya udang vaname di Desa Babakan berakar pada keterbatasan kapasitas teknis dalam mengelola budidaya secara preventif. Sebelum kegiatan dilakukan, sebagian besar mitra lebih menekankan keberhasilan budidaya pada pakan dan kepadatan tebar, sementara kualitas air belum dipahami sebagai faktor yang sama pentingnya.

Monitoring kolam cenderung dilakukan hanya ketika tanda-tanda gangguan mulai terlihat, seperti udang kurang responsif terhadap pakan atau perubahan warna air yang mencurigakan. Melalui sosialisasi awal, peserta mulai memahami bahwa kualitas air adalah komponen utama yang menentukan stabilitas pertumbuhan dan kesehatan udang selama pemeliharaan.

Pelatihan teknis difokuskan pada pengenalan indikator dasar kualitas air yang mudah diamati dan relevan dengan budidaya skala kecil. Tim pengabdian menjelaskan hubungan antara kondisi air, perilaku makan udang, kebersihan kolam, dan risiko penyakit menggunakan bahasa yang dekat dengan pengalaman harian pembudidaya.

Peserta diajak mengamati warna air, bau kolam, kondisi permukaan, serta sisa pakan sebagai indikator awal kestabilan lingkungan budidaya. Pendekatan ini mudah diterima karena materi yang diberikan langsung berkaitan dengan situasi lapangan yang dihadapi mitra.

Sebagian peserta yang sebelumnya mengandalkan perkiraan mulai memahami bahwa pengamatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu pengambilan keputusan teknis lebih cepat. Dalam diskusi, peserta menyadari bahwa banyak gangguan budidaya yang dianggap tiba-tiba sebenarnya telah didahului oleh tanda-tanda awal yang dapat dikenali.

Respons mitra terhadap pelatihan cukup baik karena program tidak menempatkan mereka sebagai objek pasif. Pengalaman pembudidaya dihargai dan dijadikan bahan refleksi bersama. Peserta aktif membandingkan pengalaman tentang perubahan air kolam, pola makan udang, dan gangguan yang pernah terjadi selama siklus pemeliharaan.

Program juga membuka ruang belajar kolektif bagi kelompok pembudidaya. Peserta mulai menyadari bahwa persoalan teknis yang mereka hadapi memiliki pola yang sama, meskipun sebelumnya dianggap sebagai masalah individual. Hal ini memperkuat interaksi antaranggota kelompok dan mendorong saling belajar.

Penguatan praktik pencegahan penyakit menjadi fokus penting dalam program. Sebelum kegiatan, mitra lebih terbiasa menangani gangguan setelah gejala terlihat jelas. Melalui edukasi lapangan, peserta mulai memahami pentingnya menjaga kebersihan kolam, mengontrol sisa pakan, memperhatikan perubahan perilaku udang, dan menghubungkan kondisi lingkungan dengan kesehatan udang.

Perubahan pemahaman ini mendorong mitra untuk lebih memperhatikan tindakan preventif. Peserta mulai memahami bahwa penyakit udang tidak selalu muncul secara mendadak, tetapi sering berkaitan dengan akumulasi praktik pemeliharaan yang kurang tepat.

Manfaat program mulai terlihat pada perubahan perilaku pembudidaya dalam mengelola kolam secara lebih teratur. Beberapa peserta mulai membiasakan diri mengamati warna air, respons pakan, dan kebersihan dasar kolam. Meskipun masih tahap awal, perubahan ini menunjukkan pergeseran dari pola budidaya berbasis kebiasaan menuju praktik yang lebih reflektif dan terkontrol.

Tabel pada halaman 7 menunjukkan perubahan awal yang diamati pada mitra pembudidaya. Monitoring kualitas air yang semula dilakukan hanya saat gangguan muncul mulai dipahami sebagai kegiatan rutin. Praktik pemeliharaan kolam yang sebelumnya reaktif mulai bergeser ke arah pengamatan yang lebih teratur. Peserta juga mulai memahami pentingnya deteksi dini, perilaku makan udang sebagai tanda awal gangguan, serta diskusi antaranggota sebagai sarana berbagi pengalaman teknis.

Gambar pada halaman 8 menampilkan program pemberdayaan pembudidaya udang masyarakat. Visual tersebut memperlihatkan peserta melakukan pengamatan kualitas air di area kolam dengan alat uji sederhana dan materi edukasi. Gambar ini mendukung uraian bahwa kegiatan dilakukan melalui praktik langsung di lapangan.

Secara keseluruhan, program berhasil menjawab kebutuhan mitra melalui peningkatan pemahaman kualitas air, penguatan praktik pencegahan penyakit, pembiasaan monitoring sederhana, dan peningkatan komunikasi antarpembudidaya. Namun, masih terdapat keterbatasan, seperti belum meratanya pemahaman peserta, belum konsistennya pencatatan kondisi kolam, serta perlunya pendampingan lanjutan agar praktik preventif benar-benar menjadi kebiasaan dalam siklus budidaya berikutnya.

Conclusion

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sebagai respons terhadap permasalahan utama yang dihadapi kelompok pembudidaya udang vaname di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, yaitu masih terbatasnya pemahaman mengenai pengelolaan kualitas air, belum optimalnya praktik pencegahan penyakit, serta masih dominannya pola budidaya yang bersifat reaktif. Kondisi tersebut menyebabkan proses budidaya berjalan dengan tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi dan berpengaruh terhadap stabilitas hasil produksi. Untuk menjawab persoalan tersebut, program pengabdian dirancang melalui pendekatan partisipatif yang mencakup tahapan identifikasi kebutuhan, sosialisasi, pelatihan teknis, edukasi lapangan, pendampingan praktik, serta monitoring dan evaluasi sederhana. Pelaksanaan kegiatan difokuskan pada penguatan pemahaman mitra mengenai indikator dasar kualitas air, pentingnya kebersihan kolam, pengamatan perilaku udang, serta langkah-langkah preventif yang dapat diterapkan dalam budidaya skala kecil. Dengan demikian, program ini tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pemberdayaan teknis yang menempatkan mitra sebagai pelaku utama dalam perbaikan praktik budidaya.

Hasil implementasi menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat awal yang cukup nyata bagi mitra. Peserta mulai memahami bahwa kualitas air merupakan komponen penting yang harus diamati secara rutin, bukan hanya diperhatikan ketika gangguan sudah muncul. Selain itu, mitra juga menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan penyakit melalui pemeliharaan kolam yang lebih teratur, pengelolaan pakan yang lebih hati-hati, dan pengamatan dini terhadap perubahan perilaku udang. Perubahan ini diikuti dengan mulai tumbuhnya kebiasaan monitoring sederhana serta meningkatnya interaksi antarpembudidaya dalam berbagi pengalaman teknis. Kontribusi utama kegiatan ini terletak pada penguatan kapasitas teknis dan perubahan cara pandang mitra, dari pola budidaya yang cenderung reaktif menuju pendekatan yang lebih preventif dan terukur. Dalam konteks pengabdian masyarakat, hasil tersebut menunjukkan bahwa intervensi sederhana namun aplikatif dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan ketahanan usaha budidaya di tingkat masyarakat pesisir. Penguatan lanjutan dapat diarahkan pada pembiasaan pencatatan kondisi kolam, peningkatan kemampuan membaca parameter kualitas air secara lebih terstruktur, pengembangan prosedur sederhana pencegahan penyakit, serta penguatan peran kelompok pembudidaya sebagai ruang belajar bersama. Keberlanjutan program juga penting untuk memastikan bahwa praktik-praktik preventif tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi benar-benar terintegrasi dalam siklus budidaya berikutnya. Oleh sebab itu, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, penyuluh perikanan, dan kelompok pembudidaya perlu terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat pesisir. Dengan tindak lanjut yang konsisten, program pengabdian ini berpeluang menjadi model penguatan kapasitas teknis pembudidaya udang skala kecil yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.

References

Arifin, M., & Rahmawati, D. (2021). Pendampingan teknis budidaya udang vaname berbasis pengelolaan kualitas air pada pembudidaya pesisir. Jurnal Pengabdian Perikanan Nusantara, 6(2), 101–113.

Firmansyah, A., & Lestari, P. (2020). Pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pelatihan budidaya udang berkelanjutan. Jurnal Abdimas Kelautan dan Perikanan, 4(1), 45–57.

Hidayat, R., Maulana, F., & Sari, N. (2022). Edukasi partisipatif dalam peningkatan kapasitas pembudidaya udang skala kecil di wilayah pesisir. Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat, 8(3), 214–227.

Kurniawan, D., & Putri, S. A. (2021). Penguatan praktik monitoring kualitas air pada budidaya udang vaname melalui pendekatan lapangan. Jurnal Aplikasi Perikanan dan Pengabdian, 5(2), 88–99.

Nugroho, T., & Wibowo, A. (2019). Peran pengabdian masyarakat dalam pengembangan kapasitas teknis pembudidaya perikanan rakyat. Jurnal Pemberdayaan Komunitas Pesisir, 3(2), 66–78.

Prasetyo, H., & Ramdani, G. (2023). Pelatihan pencegahan penyakit udang pada kelompok pembudidaya sebagai upaya menurunkan risiko kegagalan panen. Jurnal Pengembangan Masyarakat Bahari, 9(1), 31–44.

Putriana, E., & Hanafiah, L. (2020). Implementasi program edukasi budidaya sehat bagi petambak udang di kawasan pesisir selatan. Jurnal Pengabdian Terapan Indonesia, 7(4), 150–162.

Rahman, I., & Azzahra, N. (2022). Workshop budidaya udang vaname untuk meningkatkan keterampilan teknis dan ketahanan usaha masyarakat pesisir. Jurnal Pengabdian dan Teknologi Kelautan, 10(2), 119–132.

Setiawan, B., & Maulidia, R. (2021). Pendekatan partisipatif dalam penguatan kelompok pembudidaya udang di desa pesisir. Jurnal Sosial Ekonomi Perikanan dan Pengabdian, 6(1), 73–85.

Yuliani, D., & Pratama, R. (2023). Pengelolaan kualitas air dan pencegahan penyakit sebagai strategi penguatan budidaya udang vaname berkelanjutan. Jurnal Perikanan Terapan dan Pemberdayaan, 11(1), 25–39.

Download